Malam Terakhir Mendengar Suaramu

Posted: 15 Februari 2012 in Bebas


P

ada suatu tengah malam tidurku yang terlelap, aku terjaga mendengar tangisan ibuku yang memanggil kakekku yang sudah meninggal, aku yang terbangun masih terdiam di kamar dan tidak melihat ibuku. Saat itu juga ayahku membawa ibu ke rumah sakit Sanglah. Di rumah sakit ibu di rawat selama beberapa hari, aku ditinggal di rumah bersama adikku dan dijaga oleh Om ku.Namun karena waktu itu aku masih anak-anak yang belum begitu paham sekali, aku masih melaksanakan aktifitasku sekolah dan bermain seperti biasanya, seperti tidak ada kejadian sama sekali.

Di suatu sore hari tanggal 22 Oktober 1986 datang teman ayah ke rumah dan mengajakku bicara secara perlahan. Aku yang melihat teman ayahku ketika baru datang, aku sudah merasa ada firasat yang nggak enak di hati.

“Ibu wis sedo,”katanya, membuatku bungkam seribu bahasa. Seketika itu tetangga pada datang ke rumah. Dan aku sempat duduk di tepi jalan gang yang ditutup oleh kayu yang dipakai tukang untuk menyerut kayu.Ada temanku datang dan bertanya ada apa.Kujawab ibu meninggal.

Pada malam hari datang teman ayah yang lain, mereka mengabarkan bahwa rencananya jenazah ibu akan dikubur di jawa. Seketika itu aku, adikku dibantu teman ayah mengumpulkan pakaian yang akan dibawa untuk ke Jawa, padahal di rumah saat itu sangat ramai dengan para tetangga, bahkan aku melihat ember besar yang akan dipersiapkan untuk memandikan jenazah ibu.Karena paniknya dalam kondisi yang ramai pula, aku hanya membawa beberapa potong pakaian saja.

Akhirnya kami dibawa menuju rumah sakit dan bertemu ayahku.Ayahku menangis, aku jadi sedih kehilangan ibuku. Di rumah sakit banyak teman ayah di sana yang menunggu keberangkatan kami menuju Jawa. Ternyata prosesnya sangat lama dan setelah selesai dimandikan dan dimasukkan ke peti jenazah, akhirnya kami berangkat menuju Jawa. Jenazah ibu dibawa dengan menggunakan mobil ambulans, dan kami beserta teman-teman ayah dalam satu mobil dari kantor berangkat ke Jawa.

Dalam perjalanan ke Jawa, adikku yang waktu itu kira -kira kelas II SD dan aku kelas VI SD, selalu bercerita tentang ibu dan berkata besok ibu bangun ya, seolah-olah ibu masih hidup menemani kita.Aku kasihan pada adikku, karena hanya sebentar merasakan kasih sayang ibu.

Perjalanan menuju Jawa, tepatnya menuju ke Sragen, membutuhkan waktu yang sangat lama, kurang lebih 12 jam-an. Setelah rombongan melalui jalan raya Gempol Porong , mobil yang kami tumpangi terpaksa berhenti, karena tali kipasnya putus. Karena mobil berhentinya di tempat yang jauh dari keramaian, akhirnya mobil ambulans yang membawa jenazah ibu pergi mencari tali kipas untuk di pasangkan pada mobil yang kami tumpangi. Sungguh malang, nasib jenazah ibuku yang dibawa ambulans keliling mencari tali kipas. Pada jaman itu belum popular penggunaan HP, tapi mobil ambulans dan mobil yang kami tumpangi jalannya selalu beriringan.

Dan kira pukul 14.00 – 15.00 akhirnya kami sampai di Dukuh Jetak Tani, Desa Jetak tepatnya di rumah ayah yang di Jawa. Sampai di sana, kami disambut oleh para keluarga besar ayahku dan ibu. Aku disambut Bu Lik Karsi dan dibawa menuju dapur, aku yang semula tidak nangis, akhirnya menjadi nangis. Aku baru merasakan betapa aku saat itu merasakan kesedihan yang mendalam. Setelah itu datang Bu De Darman yang nangis saat itu, membuatku tidak kuasa menahan tangis dan air mata yang mengucur dengan deras.

Setelah itu peti jenazah ibu, akan diberi hiasan, sebelum peti dipaku, aku berkesempatan melihat jenazah ibu, tapi hanya sekejap saja, karena baru pertama kalinya aku dalam sejarah hidupku melihat orang yang sudah meninggal, karena aku takut. Dan tak lama kemudian jenazah disholatkan, tapi aku tidak ikut sholat, aku hanya diam di kamar, karena pada masa itu, kami sekeluarga belum menjalankan sholat. Dan ini menjadi penyesalan sepanjang hidupku, karena tidak ikut menyolatkan jenazah ibuku.

Kemudian prosesi upacara dan sambutan dari pihak keluarga dan pemerintah desa, peti jenazah ibu dibawa secara ramai-ramai menuju kuburan. Jalan utama desa menuju kuburan, masih merupakan jalan tanah, beda dengan kondisi saat ini yang sudah diaspal.

Di kuburan aku mengikuti dan menyaksikan pemakaman ibu, aku merasa sedih, ingat ibu, aku belum bisa membahagiakan ibuku.Kemudian sehabis pemakaman, kami beserta teman-teman ayah mengadakan doa bersama di tepi kuburan ibu.

Pada malam harinya, di rumah ayah diadakan tahlilan, setelah selesai acara tersebut, adikku Rita, tidur di lantai beralaskan tikar dan tak lama setelah tertidur, adikku menangis memanggil-manggil ibu. Dan yang tidak bisa kumengerti, posisi tidur adikku tepat di lantai dibawah tempat peti jenazah ibuku sewaktu masih disemayamkan.

Ibu….

Engkaulah yang melahirkanku dan adikku

Yang membesarkanku dengan penuh kasih sayangmu

Namamu terukir indah dihati sanubariku

Ibu…

Kini engkau pergi meninggalkanku dan adikku

Pergi jauh untuk menemui Tuhan-Mu

Ibu..

Malam itu malam yang tidak pernah kuduga

Saat engkau memanggil kakekku

Ternyata itu malam terakhir ku mendengar suaramu

Ibu …

Aku slalu merindukanmu

Kudoakan agar engkau dapat diterima disisi-Nya

dalam keabadian di alam surga-Nya

Jimbaran, 14 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s